hati saya sedang gusar...
mungkin resah dan entahlah apa namanya...
saat saya mendengar seseorang meninggal dunia...
Ya, Allah ampuni hambamu..
hamba hanyalah makhluk-Mu yang lemah dan tak berdaya
Engkau-lah yang lebih mengetahui segala perkara.
bermula, saat saya sedang melakukan transaksi bisnis dengan seseorang warga keturunan.kapasitas saya adalah membantu teman saya yang hendak membeli tanah dari orang tersebut
yang hendak menjual tanahnya,
alhasil, kesepakatanpun terjadi dan dilanjuti dengan perjanjian ke notaris.
setelah uang muka diberi, maka sisa dari uang yang mesti dibayar adalah saat sertifikat tersebut keluar dari BPN.
setelah sertifikat keluar, maka teman saya membayar lunas harga tanah tersebut,
namun....................................
orang tersebut menolak dan mengingkari harga tanah tersebut
dan mengatakan kepada temanku itu bahwa saya telah berbohong dan dia menuntut harga tanah yang lebih.
teman sayapun gusar dan marah pada saya,..akhirnya saya turun dan menemui orang tersebut dengan kemurkaan saya...
dan saya katakan padanya: apa yang telah terjadi padamu? kenapa engkau ingkar?
dia tetap ngotot mengatakan saya yang salah...
maka, saya bersumpah atas nama tuhan, siapa yang salah dan berbohong akan mati!!!!!
(sekali lagi ampuni saya ya,Allah)
seminggu yang lalu orang itu telah mati.....
ya, Allah ampuni hambamu, jikalau orang itu mati...bukanlah karena apa-apa
melainkan engkaulah yang telah menetapkan kematian seseorang itu...
Ya, Allah ampuni hambamu ini,...yang lemah dan tak berdaya
engkaulah yang lebih mengetahui segala perkara,
jadikan hambamu ini sebagai hamba yang selalu di jalan-MU.
Amin...ya rabbal alamin
Rabu, 28 Mei 2008
Senin, 26 Mei 2008
aku islam sejati
sebagai seorang sahabat,saya tidak berkeberatan
saat seorang teman saya mengundang saya untuk menghadiri acara
pembabtisan anaknya.
tidak hanya itu, tapi saya juga ditunjuk sebagai juru photo acara tsb.
maka dengan gaya seorang yang seperti profesional
saya mulai mengambil gambar moment demi moment...
tapi ditengah acara, ternyata kamera tersebut bermasalah
dan tidak bisa digunakan.
bukan hanya saya yang gusar namun kelihatan sekali sahabat saya itupun
mengalami kegusaran yang sama.
maka tanpa pikir panjang saya tancap gas ke toko terdekat.
lalu nekat meminjam pada pelayan ditoko tersebut kamera baru
dengan alasan, saya hendak memotret kemenakan saya yang sedang dibabtis di gereja santo itu.(kamera lama pun saya titip)
sebagai jaminan saya menitip ktp dan sim saya juga,
lalu tancap gas kembali lagi ke gereja tersebut.
saya dan teman saya bisa bernafas lega karena
semua moment penting dapat saya abadikan,....
dan disaat itulah masih dalam gereja, seorang rekan bisnis saya melihat saya
dan berkata" lho mas Adi, bukankah anda ini seorang muslim?
atau kah sudah berpindah agama?
saya jawab:"ya, saya muslim, nggak salah kan kalau saya membantu saudara saya?
dan teman itupun tersenyum manis sekali pada saya....
bukankah seharusnya kita saling membantu dalam urusan,
tapi tidak merusak akidah masing2?
selesai acara itu, saya balik lagi ke toko tempat saya meminjam kamera tadi,
ternyata kudapati pelayan toko itu dengan wajah, harap2 cemas menanti kedatangan saya.
selidik punya selidik akhirnya saya tau, ternyata pelayan toko itu
gelisah, karena melihat sim dan ktp yang saya titip dari milik saya itu,
sempat dibacanya dengan tulisan:
agama: islam
dipikirnya,saya sedang memperalatnya
karena alasan saya tadi yakni meminjam kamera di toko tersebut
karena hendak memotret prosesi pembabtisan kemenakan saya...
hm...
anehnya lagi, katanya saat meminjamkan kamera tadi
dia melihat wajah saya, mirip warga keturunan...
oalah....(padahal saya berfikir, pasti dia sedang melihat artis sinetron)
he..he..he..
saat seorang teman saya mengundang saya untuk menghadiri acara
pembabtisan anaknya.
tidak hanya itu, tapi saya juga ditunjuk sebagai juru photo acara tsb.
maka dengan gaya seorang yang seperti profesional
saya mulai mengambil gambar moment demi moment...
tapi ditengah acara, ternyata kamera tersebut bermasalah
dan tidak bisa digunakan.
bukan hanya saya yang gusar namun kelihatan sekali sahabat saya itupun
mengalami kegusaran yang sama.
maka tanpa pikir panjang saya tancap gas ke toko terdekat.
lalu nekat meminjam pada pelayan ditoko tersebut kamera baru
dengan alasan, saya hendak memotret kemenakan saya yang sedang dibabtis di gereja santo itu.(kamera lama pun saya titip)
sebagai jaminan saya menitip ktp dan sim saya juga,
lalu tancap gas kembali lagi ke gereja tersebut.
saya dan teman saya bisa bernafas lega karena
semua moment penting dapat saya abadikan,....
dan disaat itulah masih dalam gereja, seorang rekan bisnis saya melihat saya
dan berkata" lho mas Adi, bukankah anda ini seorang muslim?
atau kah sudah berpindah agama?
saya jawab:"ya, saya muslim, nggak salah kan kalau saya membantu saudara saya?
dan teman itupun tersenyum manis sekali pada saya....
bukankah seharusnya kita saling membantu dalam urusan,
tapi tidak merusak akidah masing2?
selesai acara itu, saya balik lagi ke toko tempat saya meminjam kamera tadi,
ternyata kudapati pelayan toko itu dengan wajah, harap2 cemas menanti kedatangan saya.
selidik punya selidik akhirnya saya tau, ternyata pelayan toko itu
gelisah, karena melihat sim dan ktp yang saya titip dari milik saya itu,
sempat dibacanya dengan tulisan:
agama: islam
dipikirnya,saya sedang memperalatnya
karena alasan saya tadi yakni meminjam kamera di toko tersebut
karena hendak memotret prosesi pembabtisan kemenakan saya...
hm...
anehnya lagi, katanya saat meminjamkan kamera tadi
dia melihat wajah saya, mirip warga keturunan...
oalah....(padahal saya berfikir, pasti dia sedang melihat artis sinetron)
he..he..he..
Imam Hanafi dan Atheis

alkisah:
Hanafi kecil bergegas datang kepada gurunya Syaikh Habban untuk menyampaikan dan menanyakan tentang takwil mimpinya semalam. Dilihatnya sang guru sedang termenung yang agaknya sedang menghadapi masalah yang cukup berat. Tergambar pada kerut wajah sang guru dengan pandangan matanya jauh ke depan.
Tanpa menoleh ke arah si murid, sang guru bertanya, “Ada apa, anakku?” Hanafi kecil menjawab, “Saya ingin menceritakan mimpi saya tadi malam, guru.”
Sang guru memandang tajam kepada si murid dan berkata, “Terangkan mimpimu itu!” Imam Hanafi kecil menceritakan mimpinya, “Dalam mimpi, aku melihat seekor babi hendak menumbangkan pohon besar sambil mengorek-ngorek membongkar tanah dan akar pohon itu. Tiba-tiba datang seekor ular kecil, lalu mematuk dan melilit babi besar itu. Akhirnya babi itu mati.”
Syaikh Habban berkata, “Anakku, inilah yang sedang kurenungkan dari tadi. Aku menerima surat dari raja, memerintahkan aku agar segera datang ke kota. Di sana sedang ada bencana besar dengan datangnya seorang Dahry (Atheis). Si Dahry telah menantang para ulama untuk berdebat dan mengadu hujjah tentang ada atau tidak adanya Tuhan. Si Dahry tentu saja berpendirian bahwa Tuhan itu tidak ada. Raja memintaku untuk menghadapi si Dahry. Pohon besar dalam mimpimu itu adalah aku. Babi itu adalah si Dahry. Sedangkan ular kecil itu adalah engkau, anakku. Sekarang pergilah menghadap Raja atas namaku. Allah menyertaimu.”
Ketika Hanafi kecil menghadap Raja dengan membawa surat balasan, Sang Raja agak terkejut. Anak belasan tahun berani menghadapi si Dahry. Namun Raja sadar bahwa Syaikh Habban adalah seorang khawwashul khawwash.
Pada hari yang ditentukan, persidangan pun diadakan dengan dihadiri orang banyak. Ketika mengetahui bahwa lawannya adalah seorang anak kecil, si Dahry protes, “Tuanku, saya keberatan melakukan perdebatan dengan seorang anak kecil.”
Mendengar protes si Dahry, Hanafi kecil mengacungkan tangan dan bersuara dengan lantang, “Tuanku Raja yang mulia, saya juga sangat berkeberatan untuk melakukan debat dengan ‘orang yang tidak punya aqal’ seperti si Dahry ini.
Si Dahry mencak-mencak di hadapan Raja karena merasa terhina, “Tuanku, saya telah dihina di depan umum. Saya mohon agar Tuanku Raja menangkap anak kecil ini atau guru yang memberi kuasa kepadanya.”
Hanafi kecil membantahnya, “Tuanku Raja, ini adalah awal perdebatan. Bukan suatu penghinaan.”
Raja agak heran dan bertanya, “Hai anak kecil, apa alasanmu bahwa ucapanmu itu bukan suatu penghinaan?”
Hanafi kecil berdiri sambil menudingkan tangannya kepada si Dahry, “Hai Dahry! Kalau Anda mengaku beraqal, coba buktikan, di depan saya dan persidangan ini, mana dia aqal Anda, bagaimana bentuknya, apa warnanya? Silahkan buktikan kepada kami jika aqal Anda memang benar-benar ada. Agar kami semua bisa menyaksikannya.”
Si Dahry bertambah marah, “Hai anak ingusan! Itu pertanyaan gila dan tolol. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menunjukkan bentuk, rupa dan warna aqalnya. Pertanyaan bodoh, hai anak kecil!”
Dengan tersenyum si Hanafi kecil berkata, “Hai Dahry, pertanyaan Anda lebih bodoh dari pertanyaan saya. Kenapa Anda hendak meminta dibuktikan bentuk dan rupa Tuhan, sedang Anda sendiri tidak bisa membuktikan bentuk dan rupa aqal Anda.”
Si Dahry pun diam seribu bahasa. Dia merasa terjebak dengan perkataannya sendiri.
sumber:http://hotarticle.org
kekayaan terpendam

Tuhan telah bermurah hati memberikan limpahan kekayaan
pada alam sekitar kita untuk keperluan manusia.
dalam suatu perkembangan peradaban
membuka diri bagi dunia luar, mutlak diperlukan
namun harus tetap bijaksana dengan segala konsekwensi pembangunan yang
dilakukan.
kekayaan alam sulawesi disepanjang pesisir timur lautnya
yang membentang dari kawasan toli-toli hingga tanjung taipa sultra
sangat kaya dengan kandungan biji nikel, emas dan tambang migas.
diklaim sebagai yang terbesar di indonesia(khusus untuk nikel)
namun explorasi yang berlebihan telah merusak sebagian besar kawasan tersebut
menyebabkan hutan gundul dan erosi di musim penghujan.
beberapa kawasan telah mengalami abrasi yang parah,
ditambah lagi dengan pembukaan perkebunan kelapa sawit yang di klaim
terbesar di pulau sulawesi.
kekayaan alam dan kesuburan yang dimiliki kawasan ini,
sangat ironis dengan keadaan masyarakatnya.
lahan2 penduduk desa, telah banyak berubah fungsi dan dimiliki
oleh perusahaan2 besar.
masyarakat masih miskin, sarana dan prasarana pembangunan sangat minim.
kekayaan yang terpendam selama ini,
memuncah dan kesohor di mana-mana,
tapi tidak memberi kesan berarti buat masyarakat yang
masih saja tetap dengan kemiskinannya.
Minggu, 25 Mei 2008
saudara yang hilang
Kelebihan yang tuhan berikan kepada manusia, membuat 2 orang malaikat
mengajukan protes kepada tuhan.
berikut percakapannya,
malaikat : apa yang menyebabkan engkau lebih memuliakan manusia ketimbang kami padahal kami dalam hal pengabdian tentulah kami melebihi manusia
tuhan : bagaimanapun engkau tak mengetahui, tentang hal tersebut, kenapa manusia lebih mulia dari
semua makhluk yang pernah kuciptakan.
malaikat : kalau begitu, jadikan kami dua orang malaikat ini menjadi manusia.
tuhan : kalian tidak akan sanggup
malaikat : pasti bisa, kami janji pasti kami menjadi manusia yang lebih mulia dari semua manusia yang ada
tuhan : apakah kalian tidak akan menyesal?
malaikat : tidak, dan engkau boleh liat seberapa besarnya ucapan kami.
alkisah, kedua malaykat tersebut(harut dan marut), dengan izin tuhan, keduanya diturunkan ke dunia menjadi manusia.
namun ditengah jalannya mereka mendapati kesenangan dunia yang melupakan.
sehingga malaikat A dan B menjadi, lupa diri dan mereka melakukan perbuatan keji dan hina yang belum pernah dilakukan oleh manusia manapun.
akhirnya mereka mendapat laknat tuhan, mereka ingkar atas janjinya pada tuhan,
keduanya memohon pada tuhan agar dikembalikan menjadi malaikat kembali,
tapi nasi telah menjadi bubur, tuhan akan mengabulkan permintaan mereka jika dunia telah kiamat
dan keduanya dipisahkan pada tempat yang berbeda:
satu malaikat disimpan di lautan dan satunya lagi di tempatkan antara langit dan bumi
itulah cerita 2 saudara kita yang hilang, dan kelak kita menjumpai mereka pada saat kiamat.
Langgan:
Entri (Atom)
